Moskow (KABARIN) - Inggris dikabarkan tidak akan membiarkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang infrastruktur sipil di Iran seperti jembatan dan fasilitas pembangkit listrik. Informasi ini dilaporkan The i Paper pada Senin berdasarkan sejumlah sumber.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Inggris hanya akan memberikan izin penggunaan pangkalan jika berkaitan dengan operasi yang bersifat defensif. Sementara rencana serangan terhadap fasilitas sipil dinilai tidak masuk dalam kategori tersebut.
Dalam laporan yang sama juga dijelaskan bahwa setiap permintaan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh pesawat pengebom AS akan diputuskan secara terpisah berdasarkan situasi yang terjadi.
Pangkalan udara Fairford di Inggris diketahui menjadi satu satunya fasilitas di Eropa yang kerap digunakan pesawat pengebom strategis Amerika Serikat. Lokasi ini juga pernah dipakai dalam operasi militer di Irak dan Yugoslavia pada masa lalu.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 30 Maret menyatakan kemungkinan akan menghancurkan sejumlah infrastruktur vital Iran termasuk pembangkit listrik, kilang minyak, fasilitas desalinasi, hingga Pulau Kharg jika kesepakatan damai tidak tercapai dan akses Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Pada 7 April, Trump kembali mengeluarkan ancaman serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik di Iran apabila Teheran tidak segera memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan gabungan pada 28 Februari yang menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil di Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di beberapa negara Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Situasi tersebut turut berdampak pada terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan rute penting distribusi minyak dan LPG dunia dari kawasan Teluk.
Gangguan ini kemudian memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara akibat tersendatnya pasokan energi global.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026